Wakss.. akhir-akhir ini cuaca di Jakarta semakin amburadul. Hujan setiap saat, malahan konon katanya tanggal 23 ini akan terjadi gelombang pasang tinggi (ini gosip yang beredar dari email ke email). Yang terakhir ini semoga tidak terjadi, karena itu pasti akan merusak rencanaku untuk naik feri....
Mamaku di rumah pun sudah sangat kebat-kebit ketakutan akan kebanjiran lagi seperti awal tahun. Jadi setiap kali hujan lebat tiba, dia kalang kabut menumpuk batu bata di depan pintu dan tidak bisa tidur semalaman. Kasihan juga sih, tapi harus bagaimana?
Sebenarnya tidak diperlukan seorang Al Gore untuk dapat menyimpulkan bahwa sedang terjadi global warming. Apalagi sampai harus disadarkan oleh The Inconvenienth Truth nya dulu. Kesannya kok dodol banget ya? Memangnya orang-orang tidak sadar bahwa bumi semakin panas? Bahwa efek rumah kaca memang sudah sampai pada batasnya?
Jujur saja, jauh sebelum si om Gore berkoar-koar di TV dan sampai meraih nobel atas kepeduliannya kepada lingkungan, aku sudah merasa aneh dengan suasana alam yang makin berubah.
Dulu ketika aku masih SMA (nostalgia euy, itu jaman-jaman kejayaan karena masih muda dan belia, eheheh), setiap kali pulang melewati daerah Caman (itu perbatasan Bekasi dan Jakarta Timur, suatu daerah di pinggiran kalimalang), udara yang aku rasa pasti ada perbedaan yang signifikan. Rasanya gimanaa gitu. Beda sekali. Kalau di Jakarta (dulu sekolah ku di daerah Prumpung, itu ibarat 'bronx' nya daerah Rawabunga) udaranya penuh polusi dan kotor sekali. Asap knalpot seperti berlomba membuat udara menjadi hitam. Daun di pepohonan pun pasti sudah keracunan sendiri oleh karbondioksida yang harusnya mereka butuhkan di proses fotosintesis.
Namun selepas dari Caman itu, kok polusinya tidak separah di Jakarta ya? Beda banget deh pokoknya.. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi benar-benar terasa bedanya.
Sekarang sih boro-boro... Di depan pintu rumah saja polusinya sudah setara dengan berdiri di pinggiran Tugu Tani.. sighh
Sebenarnya kalau diperhatikan, semua itu adalah kesalahan kita juga. Hampir semua orang - kalau tidak mau dikatakan 'semua' - pasti pernah membuang sampah sembarangan. Ya aku juga dulu pernah, tapi sekarang betul-betul sudah insyaf dan tobat 100%. Malahan kini rasanya emosi jiwa banget kalau ada orang yang menganggap bahwa memang tersedia 'tong sampah maya' di bawah kolong tempat duduk mereka di angkot. Bagi yang tidak tau apa itu 'tong sampah maya', itu loh.. Kondisi dimana ketika mereka selesai makan/minum, lalu bungkus nya langsung dibuang *tuing* ke bawah kolong tempat duduknya. Padahal jelas-jelas di kolong tempat duduk itu tidak ada tong sampah yang bisa menampung, yang ada hanya lantai angkot. Jadilah itu mereka anggap sebagai 'tong sampah maya'.
Sepertinya kok jorok dan malas jika membuang sampah disana. Mbok ya dipegang dulu sampahnya atau dimasukin tas sekalian (seperti aku) dan baru dibuang jika sudah ketemu dengan tong sampah. Kok susah sekali ya berbuat seperti itu? Tisu, gelas (bahkan botol) air mineral, plastik gorengan, bungkus permen (ini menduduki tempat teratas karena paling sering dibuang orang di 'tong sampah maya'), bahkan kalau bisa, mungkin segala sesampahan yang ada pada mereka juga dibuang kesana.. Heran 
Semua orang sebetulnya tau bahwa mereka turut andil dalam pemanasan global ini. Tapi mungkin semuanya tutup mata dengan anggapan bahwa mereka tidak akan sempat merasakan dampaknya. Padahal, itu egois sekali karena toh anak cucu mereka lah yang pasti akan menuai hasilnya.. Tuh, egois kan?
By the way, Mr. J itu juga sudah kena dampaknya loh. Dia mengganti AC di ruangannya dengan AC baru (padahal menurutku itu masih dingin sekali, apalagi sekarang musim hujan, jadi tambah dingin) karena dianggap sudah tidak mampu mendinginkan suhu ruangannya (atau suhu tubuhnya ya?). Makanya Sir, jangan suka marah-marah.. Kalau memang tidak sanggup meng-handle kami, pulang saja ke negara mu yang nun jauh disana.. Kami akan senang sekali if you want to move your a** out of our country 
Posted at 02:31 pm by Hannyta