Delapan hari sudah aku seperti seekor sapi Kobe, didudukkan di kursi yang pas di pantat. Tidak kurang tidak lebih. Betul-betul pas.
Tapi itu memang keinginanku, tur overland Jawa-Bali yang tidak kusangka betul-betul begitu menguras tenaga dan membuatku susah duduk maupun tidur.

Dua hari di Jogja. Kota yang telah membuatku jatuh hati dengan segala keramahan penduduknya. Harga makanan dan oleh-oleh yang super duper murah, meskipun si mbak penjual kutawar sampai gigit jari, hehehe, makin membuatku kangen ingin segera kembali kesana. Adikku membeli sebuah tas anyaman sebesar alkitab ukuran besar dengan harga hanya 17 ribu perak! Itupun si mbak penjual hanya bilang "ditambah sedikit lagi ya mbak, tapi kalau ndak bisa juga ndak apa-apa loh".. Ohohoho, makin membuat kami merajalela menawar barang-barang jajaan nya ;)

Semalam di Sarangan yang dingin dan semalam di Bromo yang creepy cukup membuatku makin fall in love dengan Indonesia. Apalagi suasana Bromo menurutku keren abis dengan belerang yang sedikit banyak mirip dengan bau kentut. Aku betul-betul menggigil setengah mati di atas sana. Bahkan tidak sanggup untuk naik ke puncak kawah. Hanya setengah dari 200 anak tangga yang berhasil kupanjat. Tak sanggup euy, aku layaknya seorang nenek-nenek yang tak mampu berjalan terlalu jauh malah memutuskan untuk turun dari tangga dan naik kuda ke kaki penanjakan. Mobil jeep dengan rute mirip off-road dan dibatasi oleh jurang-jurang menganga di tepian jalannya membuat kami semua sempat ketakutan oleh kelihaian driver jeep kami. Empat jempol terangkat untuknya.



Namun sayang, 3 hari di Bali tidak menunjukkan kepadaku kecantikannya yang sesungguhnya. Sebenarnya kami memang dibawa ke berbagai tempat disana, tapi entah kenapa seperti ada yang kurang. Gelombang pasang dan banjir di Jawa sempat mempengaruhi jadwal kami. Takut tidak bisa pulang lagi, itu yang dikatakan oleh si tour guide. Kami mengerti, karena untuk kembali ke Jawa, dibutuhkan penyebrangan 1 jam dengan feri. Apa yang akan terjadi seandainya Selat Bali itu bergolak?

Tapi sejujurnya, disana aku merasa hampa karena masalah antara aku dengan dia. Dikatakan olehnya masalah ini akan diputuskan begitu aku pulang dari Bali. Which means, sepulangnya dari sana, aku akan membicarakan masalah masa depan hubungan kami. Curang!! Itu waktu liburanku dan aku jadi tidak bisa menikmatinya karena pikiranku ada di Jakarta.
Dan nyatanya, setelah aku kembali, jawaban apa yang diberikan olehnya? "Tidak tau, masih belum tau", itu jawabannya. Dia minta waktu sampai akhir bulan lagi. Lalu apa arti semuanya itu? Jika harus berakhir, ya sudahlah. Tinggal kusiapkan saja diriku. Jika memang masih ingin terus, kita toh harus memperbaiki semuanya kan? Kenapa dia jadi begitu plin plan? Aku makin tidak mengenal dia.
Rela menjemputku di ITC Mangga Dua di jam 1/2 12 malam, lalu membawakan aku kripik usus yang iseng-iseng kuminta ketika dia ke Purwokerto, memberikan aku hadiah Natal berupa handuk berinisial namaku, memegang tanganku ketika berjalan, bahkan mencium keningku ketika selesai mengantarku. APA ARTI ITU SEMUA? Jangan gantung aku seolah aku ini mainan. Hoiii.. wake up.. Kamu mau posisikan aku sebagai apa? Kekasih? Calon istri? Atau hanya TTM??
Tega sekali, hampir 3 tahun pun menjadi sia-sia. Tiap bulan menangis dan merenung bersama, memikirkan akan dibawa hubungan kita dan semua pertengkaran yang pernah kita lalui menjadi tiada artinya. Sedikit lagi.. padahal tinggal sedikit lagi. Ibarat seorang pelari estafet, tongkat ini sudah akan dibawa menyentuh garis finish, pita kemenangan. Kenapa harus sekarang jika ingin menyerah? Kenapa tidak dari dulu ketika kita masih sama-sama keras kepala? Kenapa??
Kamu tau bahwa aku sayang sekali padamu. Kamu juga tau kalau aku setengah mati memperjuangkan hubungan kita. Lalu kenapa harus menyerah? Kamu pernah berjanji akan berubah. Aku pun bertekad akan belajar menekan emosi ku. Harusnya kita tidak ada masalah lagi. Lalu kenapa sekarang malah posisi kita makin di ujung tanduk?
Tolong beri aku jawaban... Aku pun hampir putus asa.. Sedikit lagi my dear.. sedikit lagi...