Sometimes I wonder.
Maybe God gave us a 'ticket' to find your soulmate.
He is somewhere waiting for you at the airport.

Kita tidak pernah tahu berapa kali kita harus transit.
Kita tidak pernah tahu berapa kali kita harus mengalami patah hati.
Kita tidak pernah tahu kapan kita sampai
Paragraf di atas aku temukan dari blog nya Teh Ninit. Aku copy sedikit ya teh, it's so insipiring, at least for me.. that's why i love reading your blog...
Itu sangat menohok perasaan ku. Oh sesungguhnya aku bukan tipe seorang perempuan yang suka menangis dan meraung-raung meratapi hubungannya yang di tepian jurang. Bukan, itu sungguh bukan aku. Tapi tepat setelah membaca semua postingan Teh Ninit hari ini, aku makin berpikir ulang. Memikirkan apa yang harusnya aku ambil. Sebuah keputusan yang memang sudah nyata di depan mata.
Aku memang terlalu dilambungkan. Merasa geer karena mengira tidak akan pernah transit. Begitu yakin bahwa pesawat yang sekarang kutumpangi (dan kini makin oleng tak terkendali) akan tiba di tempat tujuan. Karena memang pembicaraan awal komitmen kami adalah sesuatu yang serius, bukan main-main. Dia sering memintaku untuk mendarat di tempat tujuan itu. Tidak sekali, tapi berkali-kali. Namun dulu, entah ego kesombongan atau ketidak yakinan dalam hati, menjadikanku tidak mau mengabulkan permintaannya.
Tapi aku merasa aman. Aku dahulu begitu yakinnya bahwa pesawat kami ini akan tetap menuju kesana. I was so naive thinking that we're going to tie the knot..
Sampai beberapa bulan terakhir ini.
Dia makin menjauh dan awalnya aku tak peduli. Kukira hanya sesaat, tapi ternyata makin berlanjut sampai saat ini. Aku panik. Tak kukira akan seperti ini. "Aku mau berubah", itu kataku. Namun ternyata bukan itu yang dia minta. Dia tidak mau mengatakan alasannya. Aku terlanjur takut. Aku takut proses transit itu akan menyisakan bekas luka di hatiku. Sejujurnya, aku malah belum pernah transit. Seperti yang dikatakan teh Ninit, dulu kukira pesawat ini adalah direct flight. Aku takut sekali, oh my God, i'm so scared...
Aku bukan seorang perempuan tukang mengeluh.
Aku jarang mencurahkan perasaanku dan whining tentang hubunganku dengan orang lain. Tapi sekarang, ini yang kulakukan. Kutelepon teman-teman baikku (terutama pria) dan aku mengeluh. Aku butuh dikuatkan walaupun aku sudah tau hasil akhirnya. Hatiku tidak mau mendengarkan perintah akal sehatku. Aku merasa masih punya harapan (masihkah?). Setidaknya, ku mohon kan padanya untuk mencoba memperbaiki semua. Bodoh!! Harusnya aku tidak perlu memohon.. Kalau dia memang benar-benar cinta padaku, dia tidak akan membuatku menangis terus.. tidak seharusnya seperti itu.
Aku selama ini selalu menjadi tong sampah.
Selalu siap mendengarkan cerita teman-teman wanitaku yang nyaris, akan, atau baru saja putus cinta. Dan biasanya, semua kata-kata encouragement dan feminisme yang akan keluar dari mulutku.
"Jangan sedih, emang cowok cuma dia?"
"Berhenti mengasihani diri loe dong.. dia toh ga akan balik lagi"
"Kalau dia cinta loe, dia ga akan nyakitin loe"
"Ga fair banget sih tuh cowok? Harusnya dia dengan gentle bubaran sama loe dengan tatap muka.. bukan cuma pake sms. Untung loe sekarang putus dari dia"
"Tenang, loe masih muda. Patah satu tumbuh seribu. Nanti loe akan dapet cowok yang jauh lebih baik dari dia"
"Stop crying.. at least you have your family support, right?"
Tapi taukah, sekarang justru aku yang merasa terpuruk.
Tidak sanggup memakai logika dan hanya meratapi nasib. Ternyata seperti inilah rasanya transit. Seperti inilah rasanya patah hati.. Oh my God...