(as copied from my blog in friendster.com)
Mataku berkaca-kaca. Sial, seharusnya tadi aku membawa tissue. Padahal hati ini sudah mulai berontak ketika akan turun dari mobil di tempat parkir. Harus turun atau tidak.
Dia berjalan di altar, wajahnya terlihat sangat berseri, dan mataku malah berair. Bukan, bukan karena bahagia. Aku sama sekali tidak merasakan bahagia ketika dia muncul di ujung pintu sana (jahatnya diriku), tapi jujur, seketika itu juga rasanya air mataku tidak bisa dibendung. Pria disebelahku menatap dengan pandangan menerawang, terkadang menunduk, dan memainkan ujung bajunya.. membuatku makin tertusuk dan merasa ingin pergi. Lagu pengiring yang seharusnya indah pun tak mampu mengusik pergi perasaan anehku. Telingaku serasa tuli sesaat. Mataku seakan tidak mampu menatapnya. Dia terlihat begitu sempurna. Itu yang kubenci. Itu yang tidak sanggup kulihat. Dekorasinya begitu perfect. Sesuatu yang sangat kuidamkan dan itu kulihat ada pada dirinya. Pakaiannya begitu cantik, dengan pita di pinggang, hm.. aksen yang bagus, dan kurasa akan sangat bagus juga bila dipakai olehku. Semuanya... semuanya begitu indah. Hanya satu yang bodoh. Hanya satu yang janggal ditengah semua kesempurnaan itu. KEHADIRANKU. Kehadiranku yang seperti patung di tengah semua kehidupan itu. Kehadiranku yang bahkan sama sekali tadinya tidak ingin kuwujudkan. Kehadiranku yang seperti sebuah pelengkap penderita di sebuah kalimat yang sudah komplit.
Tapi aku harus hadir. Aku dan dia memang tidak pernah saling mengenal. Kami bisa terkait karena sebuah keadaan. It's just a coincidence. We fell (or fall?) in love for the same person. Aku harus datang. Aku tidak sampai hati melihat pria disebelahku yang akan dihujani dengan pikiran-pikiran mengasihani yang mungkin akan muncul dari orang-orang itu. Aku sungguh tidak sampai hati. Therefore, I have to come. Walaupun itu artinya menyakiti diriku sendiri. Oh tidak, jangan berburuk sangka dulu, dia tidak pernah memaksaku. Dia hanya bertanya apakah aku mau datang. Aku sendiri yang bersedia untuk datang. Jadi, seharusnya tidak ada masalah. Aku yang lemah. Aku yang terlalu gugup menghadapi itu semua. Padahal seharusnya aku lah yang harus menenangkan seseorang. Tapi ternyata aku tak mampu. Aku tidak sanggup.
Sampai suatu titik, aku merasa ingin pergi. Mata dan hidungku sudah sangat berair. Aku merasa ingin pingsan saja. Sesuatu yang berlebihan memang. Aku tahu seharusnya tidak perlu seperti itu, tapi apa daya? Aku hanyalah manusia biasa yang punya perasaan dan punya rasa cemburu. I'm not a goddess, for god sake.. Aku berdiri, start to whine, dan merasa akan beranjak dari tempatku. Dia pun sepertinya mengerti, sepertinya dia paham perasaanku, sepertinya begitu.. lalu ia mengajakku. Mungkin juga ia yang tidak tahan, aku tak tahu. Gosh, i wish i knew what's on his mind.
Tapi kemudian aku berpikir. Buat apa aku bertindak seperti itu? Betul-betul seperti anak kecil. Membuat malu saja. Aku harus bertahan, toh ini bukan sebuah serial pembunuhan yang membahayakan jiwaku. Tidak. Ini hanya sebuah holy matrimony. Sebuah holy matrimony yang tidak sanggup kusaksikan. Bodohnya aku, begini saja tidak mampu? Lalu aku mencoba menikmati semuanya. Kucoba mendengarkan koornya, khotbahnya, ceritanya, semua yang ada, kucoba menyerap semuanya. Dan hei.. ternyata tidak semenakutkan itu. Aku tidak sebegitu lemahnya. Kupuji keputusanku untuk tidak pergi begitu saja. Ternyata aku bisa.
Dan ketika harus bersalaman, aku merasa bahwa diriku mampu dengan tegas menjabat tangannya dan mengucapkan 'selamat'. Mengucapkan 'selamat' karena dia sudah tampil dengan sempurna, sudah muncul dengan begitu anggunnya, dan karena mulai saat itu... dia telah memiliki hidup baru.
Happy wedding my friend :)
It was nice to meet you, even just for a sec..