Entah kesambet apa, suatu pagi di hari minggu yang cerah, otak suntuk ku tiba-tiba menelurkan ide yang tidak pernah mungkin aku lakukan dalam keadaan waras.
Aku menelepon sebuah studio foto digital dan membuat jadwal sesi pemotretan 'glamour' untuk sore itu juga!
Mungkin bagi orang lain ini adalah hal yang biasa. Tapi tidak bagiku. Seumur hidup, perkenalanku dengan studio foto (apalagi yang digital.. karena biasanya selalu memakai analog) adalah untuk keperluan pembuatan pas foto. Itupun cuma pasfoto b/w atau -- kadang-kadang -- colour untuk ijazah sekolah dan sebangsanya. Tidak ada sekalipun pernah terlintas untuk difoto gaya-gayaan dengan segala aksesoris nya.
Namun kemarin sore, gagasan briliant (namun cenderung bodoh) itupun mampir sejenak. Kupaksa adik perempuanku satu-satunya untuk mengantar dan menemaniku ke studio foto itu. Segala peralatan tempur (maksudnya kostum, sepatu, dan perhiasan -- tanpa alat make up karena disediakan langsung oleh pihak studio) pun sudah disiapkan dari rumah. Lalu dengan gaya yang yakin setengah mati, kami pun berangkat kesana.
Begitu sampai, mbak-mbak yang ada di depan langsung mengatakan, "Ini fotografernya mbak, mbak mau difoto untuk urusan apa?"
Mampus aku, mana kutahu foto ini mau dipakai untuk apa. Yang aku mau toh hanya datang, didandani, lalu difoto.. itu saja. Tidak untuk urusan apapun kok, murni hanya untuk konsumsi pribadi. Kenapa mau foto saja susah sih?
Lalu dengan PD nya, kujawab bahwa foto itu cuma iseng dan untuk koleksiku saja. Si mas fotografer (yang belakangan kutahu bernama Wisnu) itu pun hanya mesem-mesem tidak jelas dan melanjutkan berkata, "Kalau untuk casting atau model, bilang aja terus terang. Kalau untuk foto pramugari juga harus ngomong. Masa' foto cuma buat iseng? Nanti gue foto nya iseng juga loh".
Nah loh, kenapa malah balik aku yang diancam? Memangnya itu sebuah kenistaan besar seandainya ada orang yang mau difoto (dengan pengarah gaya dan fotografer profesional tentunya) hanya untuk diamati - dan dikagumi - sendiri? Heran deh..
Tidak perlu berpanjang lebar, aku langsung digiring ke lantai 3, ke tempat make-up, sebuah ruangan berukuran 2x1 yang penuh dengan kaca, selembar tirai, dan sekotak besar peralatan make-up. Tadinya, jujur aku sempat senang karena kukira proses ini akan menyenangkan.
Bayangkan, tidak pernah sekalipun aku berurusan dengan pedandan profesional, baru sekali ini, langsung difoto pula.. bagaimana tidak excited?
Proses pendempulan dimulai. Pertama-tama si mas pendandan membuka kotak raksasa yang berisi macam-macam palet beraneka warna. Lalu dengan gerakan yang santai, dia menepuk-nepukkan spons yang telah ditekan kuat-kuat ke sebuah benda moose yang nampak seperti foundation di seluruh mukaku. Tepukan itu diulang berkali-kali dan aku jelas-jelas hanya diam pasrah sambil agak berdebar-debar seperti apa jadinya nanti. Dilanjutkan dengan menggores pelupuk mata atas dan bawahku dengan tinta (atau eyeliner sih?) hitam pekat yang memerihkan mata dan membuatku ingin menangis. Lalu diakhiri dengan penggunaan lipstik warna entah apa (karena aku tidak bisa melihat kaca dengan jelas.. kurasa diakibatkan oleh pemakaian eyeliner itu).
Sampai akhirnya si mas pendandan menyuruhku mengganti kostum, baru kubuka mata dan kulihat keanehan besar terpampang di kaca depan mukaku.... KENAPA AKU LEBIH MIRIP ONDEL-ONDEL KETIMBANG MODEL??
Duh, shock rasanya.. make-up yang dibuat tebal sekali. Setebal make-up mbak KD itu loh. Foundation yang tadi ditepuk berulang-ulang telah sukses membuat wajahku tidak memiliki pori-pori lagi.
Lalu mataku.. oh kenapa mataku jadi seperti itu? Sembab hitam seperti habis ditabok dengan sendal. Tidak ada ceria-cerianya sama sekali.
Alisku lebih mengerikan lagi. Bukannya ke-GR-an, tapi alisku yang memang sudah tebal itu masih digores-gores dengan pinsil alis warna coklat tua. Aku jadi lebih mirip Crayon Sinchan ketimbang akan difoto!!

Rasanya mau menangis dan menghapus make-up itu segera. Memang aku tidak secantik model-model di tivi itu, tapi jelas-jelas mukaku jauh lebih bagus aslinya daripada dimake-up secara brutal oleh mas pendandan.
Sialnya, makin aku cemberut dan menyesali wajahku yang amburadul (setidaknya itu menurut versiku), makin ketara foundation yang tebal itu. Tidak mungkin aku pulang sekarang. Sudah terlanjur didandani, maka harus kuselesaikan.
Adikku dengan sabar berkata bahwa itu akan terlihat natural di foto, dia terus menerus meyakinkanku bahwa dandanan itu tidak menor seperti yang kulihat di kaca. Apakah memang mataku yang terlalu banyak diaplikasikan eyeliner sehingga tidak bisa membedakan mana muka topeng dan mana muka cantik?
Singkat cerita, aku keluar dari ruang make-up dengan muka aneh dan pakaian black little dress andalanku. Kesialan kedua setelah insiden make-up itu adalah dinginnya ruangan foto yang ber-ac 1PK sebanyak 2 buah untuk ruangan sekecil itu mampu membuatku menggigil dan sedikit menyesal kenapa memakai dress dengan tali spaghetti.
Belum hilang kegrogianku akan suasana dingin, tiba-tiba dari arah depan, 3 lampu sorot sebesar gelondongan kayu hutan menyorot mukaku dengan tanpa ampun. Makin terintimidasi lah diriku.
Sudah tau model amatiran, masih diberikan sorotan dahsyat ala pro pula. Teganya. Disaat itu, rasanya keinginan untuk pulang makin besar. Aku merasa sangat salah tempat.
Mas wahyu sang fotografer itu terlihat santai dan menyuruhku berdiri dengan tegak sambil sedikit mengangkat kaki.
"Pinggulnya digoyang han.."
"Digoyang gimana mas?"
"Agak ditunggingin gitu, badannya lemes aja, berdirinya yang santai, jangan maksa.. tenang-tenang aja"
"Ampun deh mas, ini nungging nya juga udah maksimal.. Ga bisa lagi dimiringin. Nanti saya jatoh, mana ini sepatu hak nya tinggi banget lagi. Ga pake sepatu boleh ga mas?"
"Ya jangan dong.. kan mau foto full body.. masa' kamu nyeker? Udah santai-santai aja"
-- dia sih enak ngomong kaya' gitu, tapi kan gue yang berdiri jadi patung di depan dengan tiga lampu raksasa yang disorot.. mana grogi nya tambah parah pula.. jadi kebelet pipis nih -> aku terang-terang merutuk dalam hati dan tambah menyesal kenapa harus keganjenan untuk difoto --
"Oke, tahan.. bagus.. pundaknya agak luwes, jangan gitu. Agak bungkuk tuh.. Kamu grogi ya? Santai aja"
"Oalah, seumur hidup saya baru kali ini dijepret mas, gimana ga grogi? Kok ac nya dingin banget sih? Duh.."
"Ya udah, jangan foto berdiri deh. Kita ambil close-up aja ya.. Duduk tuh di bangku itu. Mau pegang bantal ga? Atau boneka anjing gede? Kita punya tuh, buat variasi aja.. mau?"
"Ga mau ah.. saya duduk aja. Gayanya musti gimana mas?"
"Terserah kamu lah. Mau tiduran di kursi panjang? Tiduran aja ya.. Tuh kan, fotonya bagus kok, kulitnya udah bagus, ga perlu lagi di !*#%^&$*&. Santai aja han" --> ampun deh, dia menyebutkan salah satu teknik di photoshop yang entah apa gunanya..
---- dua setengah jam berselang ----
"Mas, udah mau selesai belom? Saya udah mati gaya nih.. " --> Makin tidak PD dan ingin pulang saja. Dua setengah jam sesi foto itu serasa neraka buatku. Betul-betul tidak bisa bergaya dan selalu dikomentari oleh si fotografer. Rasanya makin ingin menangis keras-keras...
"Bentar lagi han, ayo dong, gayanya yang natural, jangan kaku kaya' gitu. Dikit lagi, beberapa jepretan lagi ya, nanti baru udahan. Kita fokus di close-up aja yah, soalnya cara berdiri kamu kurang oke nih kaya'nya" --> Jllebb.. serasa bilati menusuk punggungku. Mas wahyu jelas-jelas berkata bahwa cara berdiriku jelek. Ampunn.. makin down saja rasanya.. Lebih tragisnya lagi, dia tidak mengizinkanku untuk melihat hasil fotoku di kameranya. Katanya nanti saja ketika sudah selesai.
Lalu tiba-tiba dua lampu raksasa itu dimatikan, dan satu lampu yang tersisa didekatkan persis disebelah wajahku. Kaget aku..
"Nah, sekarang tangannya megang lampu. Gaya merayap kaya' spiderman ya, terus mukanya buang ke kanan.. matanya liat kebawah.. ayo buruan, tangannya ke lampu"
Duh apalagi sekarang.. Disuruh memegang lampu segala.. Buat apa? Ada-ada saja
"Oke han, selesai.. Ganti baju gih sana, terus, pilih foto di bawah ya"
-- ya Tuhan, tidak terkira rasanya hati ini. Girang bukan kepalang ketika sesi sudah selesai. Aku jadi kagum total dengan para fotomodel yang top diluar sana. Kok bisa ya mereka bergaya dengan all-out? --
Foto-foto kupilih dengan bingung karena menurutku tidak ada yang bagus. Mas wahyu dan adikku terus memberikan semangat bahwa fotoku bagus. Akhirnya terpilihlah 12 foto yang menurut kami terbaik (menurut kami loh ya, bukan menurut orang lain, jadi jangan protes kalau nanti ternyata malah jelek, hehehe, toh cuma masalah selera).

Sodara-sodara, sesuai permintaan, inilah tampangku yang sok-sok artistik ketika difoto, hehehe.. Foto sebelah kiri adalah efek dari gaya tangan yang merayap ala spiderman :) Mohon maaf kalau ternyata malah membuat teman-teman sekalian sakit mata ^_^
Setelah dipikir-pikir, sepertinya ide gila ku untuk berfoto ria adalah imbas dari selesainya aku membaca Laskar Pelangi Andrea Hirata. Kata buku itu, kita semua punya bakat terpendam..
Dan tadinya kukira, bakat terpendamku adalah menjadi model. Hahaha, sesuatu yang sekarang kurasa harus betul-betul dipendam dalam-dalam 