Baru kali ini, selama 25 tahun terakhir, aku merasakan yang namanya Pengobatan Gratis!!
Betul sodara-sodara, tidak salah baca. Memang betul ada yang namanya pengobatan gratis untuk rakyat jelata macam kita-kita ini.

Kisahnya dimulai dari pusing kepala, badan demam dan tenggorokan rasa terbakar yang kurasakan dari selasa malam sehingga mengakibatkan aku terpaksa harus tidak masuk kantor selama satu hari.
Sebenarnya sempat kusadari bahwa sakit ini bukanlah sakit yang parah, hanya body yang sedang kecentilan yang ingin diistirahatkan barang sehari di tengah minggu (a.k.a. males, hehe). Oleh karena itu, daripada makin dicekoki dengan segala obat-obatan keras nan paten dari dokter langganan, kuputuskan untuk berobat ke Puskesmas.
Tepat pukul 9.30 pagi, aku berjalan sendiri ke Puskesmas dengan tentunya diiringi kicauan panjang pendek ibu ku yang menyuruhku segera berangkat sebelum jam 10 (karena mereka tutup jam 10 pagi --> bagi siapa pun yang sakit diatas jam 10, diharapkan untuk datang kembali keesokan paginya - kalau masih hidup, hehe -. Dan tentu saja, hari libur dan hari minggu tutup).
Sampai disana, banyak sekali kulihat anak-anak yang memakai kacamata hitam berlarian mondar-mandir. Bukannya mereka bergaya, tapi mata merah mereka yang sedang sakit mata memang harus ditutup.
Kusodorkan kartu anggota puskesmas (keren kan puskesmasnya? Ada member card segala loh, hehehe, walaupun satu kartu digunakan ramai-ramai untuk sekeluarga) dan oleh mas-mas penjaga loket langsung diberikan buku periksa yang harus diserahkan ke ibu dokter di ruangan sebelah.
Belum panas pantat ini duduk menunggu di ruang tunggu, tiba-tiba dari dalam ruang praktek, namaku sudah dipanggil oleh seorang mbak-mbak -- yang kurasa adalah seorang suster tapi tanpa seragam -- dan diminta langsung masuk kesana.
Hati ini sempat riang karena pelayanan yang sangat cepat dan tidak perlu menunggu lama. Tapi memang harusnya aku sudah curiga, karena begitu masuk ke ruangan praktek, disana berjejer pasien yang berdiri seperti akan digilir!
Jadi ternyata, dalam ruangan ukuran 3x5 meter persegi itu ada seorang dokter, seorang suster (tanpa seragam alias berpakaian preman), dan lima orang pasien berdiri menunggu dada masing-masing di-stetoskop. Betul teman-teman, tidak salah baca. Bukan diperiksa satu-satu seperti umumnya praktek dokter, tapi kami berlima (LIMA ORANG!!) dijejer untuk diperiksa secara masal.
Bukannya aku bermasalah dengan pemeriksaan umum (yang betul-betul diartikan secara harafiah), hanya saja mana mungkin aku harus membuka baju atasan untuk diperiksa oleh si dokter? Suasana agak ricuh karena dari kelima pasien yang ada di dalam ruangan tersebut, masih dibawa pula 2 orang anak berkacamata hitam (sedang sakit mata maksudnya) yang berlarian kesana kemari.
Oke, kurang lebih dialog seperti ini:
(Bu dokter sedang menempel-nempelkan stetoskopnya ke dada seorang bapak-bapak yang duduk di kursi pojokan)
(Mbak suster mulai mengatur kami berlima plus 2 anak kecil untuk berdiri memunggungi tembok sambil mengukur tensi ibu-ibu yang duduk di depan muka ku)
Dr: "Oke pak, kenapa? Batuk? Susah napas?"
Pasien 1: "Iya dok, semalem ga bisa tidur karena batuk terus"
Dr: "Ini kasih resep ke sebelah ya" --> setelah melakukan diagnosa kurang dari 5 menit!
Suster: (kepada ibu-ibu yang baru diambil tensinya) "Bu, geser duduknya ke depan dokter. Pak, ayo sini saya tensi" (langsung melempar pandang ke bapak-bapak disebelahku)
Dr: "Gimana bu? Asam urat ya? Ini bengkak-bengkak tangannya" (sambil menempel-nempelkan stetoskop dan mulai menulis resep, hehe, padahal si ibu masih belum berucap satu patah kata pun). "Coba ibu bawa resep ini ke sebelah" (si Ibu hanya melongo dengan bingung, namun dia menuruti permintaan bu Dokter)
Begitu seterusnya sampai tiba giliranku (yang masih diselak oleh dua krucil nakal berkacamata hitam). Didasarkan pada hasil pengamatanku atas dua pasien sebelumnya, maka i also tried to make it quick. Sebelum diriku juga diberi resep yang entah apa (saking cepatnya si dokter membuat diagnosa), langsung kukatakan bahwa diriku radang tenggorokan disertai dengan demam sesorean (kok malah pasien sendiri yang membuat diagnosa ya?)
Si dokter cuma mengangguk-angguk kecil, menempelkan stetoskop di dadaku (tanpa melepas pakaian tentu saja), dan langsung membuat resep. Hehe, tepat seperti dugaanku..
Obat kuambil di ruang sebelah. 5 macam obat berwarna-warni dengan salah satunya berbentuk seperti obat APC-nya orang Belitong (menurut buku Laskar Pelangi) yang adalah antibiotik. Kuintip orang-orang lain yang sedang mengambil obat, dan kudapati mereka SEMUA juga mendapatkan si obat putih besar yang sama seperti yang kudapat. Ternyata obatnya pukul rata sama semua apapun jenis penyakitnya 
Gratis sih memang, tapi ya itu, pelayanannya jadi super duper express.
Namun hebatnya lagi, hanya dua kali kuminum 'obat semua penyakit' itu, tenggorokanku langsung membaik dan badanku tidak demam lagi.
Pokoknya, dengan segala kejadian di Puskesmas itu, jadi bertambah-tambah cintaku dengan kota Bekasi, hehe
Posted at 04:14 pm by Hannyta
 |  |  |
tri April 25, 2008 07:15 PM PDT
yeah..
konon katanya, kalo punya knowledge tentang medicine, paling2 kita dikasi antibiotik murah (baca: generik), tambah doping multivitamin harga ekonomis.. Kalo ada keluhan lain, semisal nyeri, dikasi antinyeri.. ada keluhan sakit lambung, ditambah obat maag.. ati2 kalo ke klinik yang notabene dokternya masih "freshgraduate", diagnosanya kadang masih agak luas jangkauannya.. gw sakit di ulu hati sama diare, dikasi obat maag sama enzym. Kebetulan bos gw dokter (dokter hewan tapinyah..) bilang, kalo saya jadi kamu saya ketawa, loh dok, saya sakitnya di lambung apa di usus?
Hati2 juga sama obat yang diminum sebelum atau sesudah atau sesudah makan.. obatnya asam, diminum sesudah makan.. kalo makannya susah, kasi promag dulu biar lambungnya lebih basa dan kuat nelen obat yang jenisnya asam.. tapi jangan dikasinya mylanta, karena katanya cara kerjanya beda.. mylanta baiknya diminum sesudah makan..
akhirnya kita yang ga ngerti obat2an manut aja ama dokter.. mungkin ga ada salahnya cari2 informasi tentang jenis2 obat yang umum dan diskusi sama dokter..
Gw hobi soalnya nyecer dokter sama macem2 pertanyaan2.. sampe jutek tu dokter.. hahaha.. biarlah.. |
 |

 |  |  |
Hannyta April 24, 2008 12:58 PM PDT
To Andrei: Yap, dengan antibiotik itu, apapun juga sembuh, hehehe..obat masal gitu loh :)
To Enno: Seru loh mbak, apalagi udah gratis sembuh pula, hehehe |
 |

 |  |  |
enno April 22, 2008 11:40 AM PDT
wah belom pernah ngrasain berobat gratis! boleh juga tuh buat pengalaman seru :D |
 |

 |  |  |
travellous April 21, 2008 06:56 PM PDT
Hihihi ak ngakak aja ngebayangin kamu di jejer lima utk diperiksa! gak kebayang, untung ga disuruh lepas baju. Xixixixi gak kebayang ak Hanny! *kalo iya ak pasti berharap satu ruangan ma kmu* :p
any way ternyata intinya, penyakit hilang karena pil APC! Sigh! |
 |