Tadi pagi dalam perjalanan ke kantor, kutemukan sebuah situasi:
Seorang ibu paruh baya yang berdiri dengan susah payah di sebelahku dalam kondisi bis yang penuh sesak dan seorang perempuan muda yang sedang duduk.
Si perempuan muda itu bergerak gelisah kian kemari di tempat duduknya, padahal kami-kami yang berdiri ini pun tidak kalah sulitnya hanya untuk sekedar mempertahankan posisi berdiri yang lebih mantap.
Tidak berapa lama tiba-tiba si perempuan muda itu mengangsurkan tempat duduk yang tadi ditempatinya kepada si ibu paruh baya. Tadinya kukira dia memberikan itu karena iba pada si ibu, tapi ternyata si perempuan muda itu juga tidak merasa nyaman dengan kursi tersebut. Akhirnya daripada si perempuan muda tidak nyaman duduk, dia berikan kursi itu kepada orang lain (dalam hal ini si ibu paruh baya) dengan harapan mungkin kursi tersebut akan lebih pas untuk si ibu.
Dan memang demikianlah adanya.
Si ibu duduk dengan nyaman di kursi yang diberikan kepadanya.
Si perempuan muda pun terlihat lebih comfy berdiri berdesak-desakan di bis.
Hal tersebut membuatku berpikir.
Berapa banyak dari kita yang telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk sebuah hubungan ataupun perasaan cinta yang sulit?
Seperti perempuan muda di bis tadi, banyak pula dari kita yang tetap bertahan duduk di 'kursi' (dalam hal ini relationship) yang nyata-nyata tidak nyaman untuk diduduki.
Sudah hati sakit dan biru, raga pun rontok dan lelah.Tapi herannya masih tetap tidak mau beranjak dari situ.
Ibaratnya, semua rasa sakit pinggang dan pegal kaki masih dijalani dan ditelan bulat-bulat hanya karena kita tidak rela kehilangan sang kursi. Padahal, belum tentu kursi itu cocok untuk kita. Kita sudah kasrak-kusruk bergerak terus di dalam kursi (yang sudah dengan jelas membikin pantat bisulan), namun perasaan ini pun masih enggan pergi dari sana.
Mungkin kursi itu bukan untuk kita.
Mungkin memang si kursi tidak cocok untuk kita dan ada orang lain yang lebih cocok untuk menempatinya.
Mungkin juga begitu kita memberikan kursi yang sudah tidak terasa pas lagi di pantat kita kepada orang lain, si orang lain itulah yang akan merasa nyaman dan cocok untuk menduduki kursi tersebut.
Mungkin pula, seperti kisah si ibu paruh baya dan perempuan muda di dalam bis, akhirnya semua pihak akan menjadi lebih baik dengan kerelaan kita memberikan kursi yang sudah lama kita duduki kepada orang lain. Sehingga pada akhirnya, semuanya akan merasa bahagia.
Pertanyaannya adalah, apakah kita bisa rela dan berani untuk meninggalkan 'kursi' tersebut? Apa kita bersedia untuk melupakan semua rasa sakit di hati dengan menjauhi kursi itu dan mulai mencari kursi lain yang semoga saja akan lebih pas daripada kursi yang lama?
I keep wondering on this...
Posted at 12:17 pm by Hannyta
 |  |  |
Hanny May 2, 2008 10:13 AM PDT
To Enno: Kursi MPR ya mbak? huehehe :P |
 |

 |  |  |
enno May 1, 2008 11:20 AM PDT
han, aku juga lari nyari kursi.... di Senayan hehehe ... :D |
 |

 |  |  |
Hanny April 30, 2008 10:26 AM PDT
To Andrei: Nyindir ya? hehehe.. Iya, "kursi" itu bukan cuma relationship aja.. Kerjaan yang terlalu melenakan juga bisa dianggap sebagai 'kursi' :P
To Tri: Betul :)
To Aprian: Hehehe, maklum, masih amatir, jadi analogi nya suka ngasal.. 'Kursi' nya diperbaikin? Ya kalo' bisa sih dicoba, tapi kadang-kadang suka ada 'kursi' yang ngeyel ga mau dibenerin ^_^ |
 |

 |  |  |
aprian April 29, 2008 08:10 AM PDT
Menurut gue relationship itu hubungan antara dua mahluk hidup yg bisa berubah dan beradaptasi... mungkin analoginya sedikit melenceng. Baidewei baswei... kenapa gak diperbaiki kursinya? ;) |
 |

 |  |  |
tri April 25, 2008 07:14 PM PDT
kadang apa yang sepertinya ideal ngga selalu cocok untuk kita.. |
 |

 |  |  |
travellous April 25, 2008 04:23 PM PDT
Mmmmhhhh, perumpamaan yang bagus, gak nyangka cerita awalnya bisa di kaitkan secara apik, kontemplatif banget
Ya betul kadang sulit memberikan "kursi" yang jelas2 tidak suit utk kita, apalagi kalo sudah suit and match, apa berani mengorbankan utk hal yg lebih mulia taruhlah?
karena "kursi" itu bukan hanya ada di perumpamaan relationship kan? :) |
 |

 |  |  |
Hanny April 25, 2008 04:08 PM PDT
To Tusuk Gigi: Huhuhu, jadi seneng deh dipuji sama mas yang satu ini. Sering-sering mampir yah :)
To Angie: Thx untuk komennya yah.. nanti mau main ke rumahmu juga ahhhh ^_^ |
 |

 |  |  |
anggangelina April 25, 2008 12:43 PM PDT
yap, sayah stuju banget sama postingan yg inih... jgn terlalu memaksa dlm bkehendak, nanti bakalan bikin susah semuanya... |
 |

 |  |  |
tusukgigi April 25, 2008 02:29 AM PDT
Hai Hanny, makasih yah udah mampir ke blogku..
Blog kamu juga bagus dan menarik lho.. kisah tentang 'kursi' ini juga dalam dan kontemplatif..
keep writing ya!
|
 |