Pohon tua, kuat nan sempurna itu pun akhirnya tumbang. Naungan dedaunannya yang lembut tidak akan ada lagi. Semuanya berakhir sudah, seiring dengan berpulangnya dirinya ke haribaan sang Pencipta.
Langit pun ikut berduka, gelap dan hujan mengiringi kepergian Papa.
Lihat Papa, alam juga menangis melihat engkau pergi.
Apalagi kami papa.. apalagi kami..
Secepat kilat dan dalam sejentikan jari, segalanya terjadi dengan begitu cepat. Tidak pernah kubayangkan sebelumnya, ia akan pergi meninggalkan kami dengan cara yang begitu singkat.
Masih terbayang wajah bulat telur nan ramah dan rambut cepak habis dipangkasnya yang membangunkan aku tiap pagi.
For God's sake.. aku baru bertemu dia kemarin pagi!!
Kenapa harus secepat itu Kau panggil dia pulang? Belum puas rasanya kami membahagiakan dirinya. Masih berjibun cita-cita dan keinginan yang belum tercapai.
Kenapa hidup harus tidak adil seperti ini?
Dia baru menikmati saat-saat menyenangkan dalam usia senjanya.
Tuhanku.. aku kangen setengah mati dengan muka bulat nya
Aku rindu sekali dengan teriakan 'weker' pagi nya yang membuatku meloncat dari tempat tidur
Perih menusuk hati membayangkan perut gendutmu yang berguncang setiap kali kami anak-anakmu membawakan lelucon garing
Perasaan kangen yang dingin melesak ke dalam tulang setiap kali kami mengingat semua alasanmu agar diijinkan memakan pisang kesukaanmu
Terlanjur.. semuanya sudah terjadi. Air mata sudah tumpah, tubuhpun sudah lelah. Mata bengkak, hati hancur, dan semua kenangan indah mengiringi kepergian Papa untuk selamanya.
Selamat jalan Papa, kami semua sayang sekali padamu..
Kami berjanji tidak akan pernah melupakanmu
Terima kasih untuk semua yang sudah kau berikan
Selamat jalan Papa, sampai kita bertemu lagi..