Kemarin sabtu kami kesana. Tidak untuk jalan-jalan, tapi lebih didorong karena rasa kangen yang membuncah di dada.
Kondisi masih sama, tanah masih menggunduk, walaupun salib patah setengah. Kata orang-orang disana, itu hanya tanda bahwa tempat tersebut masih belum diurug. Rumput yang seharusnya menghijau pun terlihat kering kerontang. Sama seperti orang yang kekurangan makan.
"Kenapa begini?", tanyaku
"Ooh, kalau yang dari kantor memang begitu mbak.. kalau mau bagus kaya' di sebelah ini, harus tambah bayar sama kita", begitu jawab mereka
Selalu saja... Ketika berhubungan dengan tempat tinggal terakhir jasad papaku, tidak pernah jauh dari UUD. Bayangkan apa yang terjadi seandainya orang yang benar-benar tidak mampu juga ingin dimakamkan di TPU tersebut. Bahkan kedukaan pun dibisniskan.... Tidak punya perasaan!
Waktu itu langit mendung sekali. Di antara tiupan angin menjelang hujan, dan ditemani oleh beberapa orang penggali kubur yang sedang berkeliaran, kami menebarkan bunga di atas pusara papa. Di atas gundukan tanah dan rumput kering itu kami terpekur. Terdiam dalam pikiran kami masing-masing, membayangkan apa yang sedang ia lakukan saat ini. Bernyanyi dengan malaikat? Atau bahkan berbincang dengan Tuhan?
Kami kangen padanya. Sudah hampir 49 hari, dan setiap hari rumah kami terasa hambar, sepi tanpa ocehannya yang kadang sering kami anggap tidak penting.
Di samping foto hitam putihnya di sebelah TV, setiap minggu kami siapkan dua buah vas lengkap dengan bunga sedap malam nya. Bukan.. bukan karena karena papaku begitu mencintai bunga ketika masih hidup, tapi lebih karena kami ingin dia tetap hadir dalam hati kami. Semoga dia tetap hadir dalam keabadian dan harum seperti aroma bunga yang kami letakkan di sisi foto nya.
Kematian hanyalah sebuah tidur yang panjang.. jadi pastikan tidur itu memiliki mimpi yang indah..
We really miss you dad..
Posted at 11:45 am by Hannyta
 |  |  |
Hanny June 23, 2008 11:53 AM PDT
To Blue: Boleh saran kah? Kalau memang kangen dengan rumah, cepat-cepat lah pulang :)
Makasih sudah dropping by, sering2 mampir yah mas :) |
 |

 |  |  |
blue June 20, 2008 09:17 PM PDT
tulisan saya menggiring saya ke pojok ruang batin.
menyayat hingga batin saya ikut ngilu..
saya jadi kangen rumah...
maaf kalau saya ikut tergetar. saya memang cengeng. |
 |

 |  |  |
Hanny June 20, 2008 03:46 PM PDT
To Mas Donny: Makasih atas komennya, ini cuma ungkapan jujur dari seorang anak yang kangen banget dengan ayahnya...
Tapi saya beneran ga tau apapun tentang Julius Sitanggang loh.. maklum, pas dia sedang ngetop2nya, kaya'nya saya masih batita deh, hehehe.
Anyway, salam kenal juga, sering2 mampir yah :) |
 |

 |  |  |
Donny Verdian June 20, 2008 12:37 PM PDT
Tulisan yang sangat menyentuh...
Tulisan Anda mengingatkanku pada lagu lama Julius Sitanggang: Kematian itu hanyalah tidur panjang yang tak kan dapat bermimpi indah...
.. Dan tulisan Anda, mematahkan anggapan penyanyi cilik tahun 80-an itu, karena bagi Anda dan saya pun percaya, dalam kematian kita bisa memiliki mimpi indah.
Salam kenal! |
 |