Beberapa hari yang lalu, salah seorang temanku diberondong beberapa pertanyaan oleh teman-temannya...
"Kenapa juga sampai sekarang loe belom merit? Emang kalau kelamaan gitu ga basi?"
"Duh, udah pacaran segitu lama.. kalo' ga jadi, nanti malah nangis loh"
"Apalagi sih yang ditunggu? Sekolah udah kelar, kerjaan udah ada, cowok juga udah mapan. Buruan kawin lah"
Well darling, pernikahan tidak sesederhana itu. Perkawinan itu bukan sekedar memuaskan 'barang keramat' yang terletak satu jengkal di bawah pusar! Bukan pula berarti memiliki 'teman jalan abadi selamanya untuk ke pesta-pesta'. Pernikahan itu adalah perjanjian jangka panjang di hadapan Tuhan. Bukan kontrak sesaat yang bisa diputus begitu saja.
Lagipula, orang-orang yang memberikan komen-komen tersebut juga belum pernah merasakan bahtera pernikahan kok. Tau apa mereka tentang perkawinan dan kerumitannya?
Seandainya waktu itu temanku memberikan sedikit hint saja kepadaku untuk permintaan tolong, pasti sudah kukatakan kepada mereka:
C'mon, get a life!! Kalau memang kalian yang mo kawin, ya kawin aja sana sendiri. Jangan pake acara maksa-maksa orang yang belom siap untuk nikah juga dong!"
Ehem.. maaf, emosi jiwa..
Pernikahan itu bukan sekedar permainan indah kata-kata. "And they live happily ever after" itu cuma ada di dongeng-dongeng sebelum tidur yang diucapkan untuk membuat khayalan indah tentang akhir cerita cinta yang sempurna. Kenyataannya, perkawinan itu adalah awal dari masalah-masalah baru (uh.. now i sound so skeptical). Memang pernikahan adalah ending dari sebuah hubungan bernama 'pacaran', tapi itu justru adalah permulaan dari apa yang kita sebut penekanan keinginan masing-masing untuk selamanya.
Pertanyaan yang paling penting adalah, apakah kita sudah siap untuk menekan ego kita masing-masing (ini adalah kata lain dari k.o.m.p.r.o.m.i. --- Red.) dan mengiyakan apa yang dikatakan oleh pasangan? Pernikahan itu bukan cuma manis madu dan bunga yang akan menghiasi sepanjang masa. Perlu kedewasaan dan kesadaran dari kedua belah pihak untuk saling mendengarkan apa yang diinginkan oleh pasangannya. Bukan cuma bermesraan sepanjang hari dan mengucapkan ribuan kata cinta untuk membuat senang hati kekasihnya. Bukan itu.
Perkawinan adalah menyatukan dua pikiran berbeda, plus dilengkapi dengan keluarga masing-masing yang terkadang akan menjadikan kerumitan lebih lengkap karena adat unik mereka yang sudah terbentuk.
Belum lagi ditambah dengan kehadiran anak-anak. Don't get me wrong, i do love children and babies, in fact i'm a Sunday-school teacher. Tapi mengurus anak sendiri?? Oh please... mengurus anak-anak orang lain saja sudah sangat sulit, apalagi merawat anak sendiri. Kita harus mendidik, membesarkan, memberikan makanan yang baik, pakaian, pendidikan, mainan, hiburan, dan entah apa lagi, supaya mereka bisa bahagia, terhibur, dan tidak kuper. Itu tidak bisa dilakukan dengan sekejap dan hanya satu pihak saja. Diperlukan dua orang (bahkan lebih) supaya anak (-anak) itu bisa memiliki kehidupan yang layak dan membahagiakan. Tentu tidak mau kan jika anak kita menjadi 'anak pembantu', dimana mereka lebih dekat dengan nanny-nya dibandingkan dengan kita sebagai orang tuanya?
That's one thing..
Oleh karena itu, terkadang ingin kulempar sendal dan kuplester mulut orang-orang yang dengan isengnya juga melemparkan komen-komen serupa diatas kepadaku. Hey, yang punya hubungan kan kami, bukan kalian. Yang tau jatuh bangunnya kisah percintaan kan kami, bukan kalian. Dan yang mengerti bagaimana sulitnya setia, berkomitmen dan stick to it kan juga kami, bukan kalian.
Intinya, perkawinan itu sulit. Sangat sulit malah. Dan tidak semua pernikahan itu berakhir dengan indah seperti pernikahan orang tua ku. Tidak mau kan jikalau janji suci sehidup semati di hadapan Tuhan itu terpaksa harus putus di tengah jalan. Jadi jangan paksa kami-kami ini (duh, jadi curhat colongan nih, hehe) untuk menikah jika kami memang masih belum siap. Memangnya kalian-kalian yang mendorong-dorong untuk cepat kawin ini mau bertanggung jawab atas kelangsungan bahtera perkawinan kami kelak? Tidak kan?
Akhirnya, menurutku, pernikahan itu tidak bisa di-grasa grusu. Tidak bisa dikejar-kejar dan diburu-buru. Harus ada kesiapan hati, mental, fisik, dan tentu saja finansial untuk semua itu dilaksanakan. Tidak bisa dua orang yang masih egois namun 'mencinta' dipaksa untuk menikah. Cinta tidak bisa dimakan, honey. Untuk tahun-tahun pertama, memang cinta yang berbicara dan akan menjadi pelekat hubungan. Tapi untuk selanjutnya? Hanya ada tiga hal.. komitmen, kedewasaan, dan toleransi..
Pernikahan itu memang harus dipikirkan matang-matang, teman..
--- Disclaimer ---
Tulisan ini bukan untuk memprovokasi para pembacanya untuk jadi takut menikah.
Ini hanya pandangan bebas dari diriku untuk orang-orang yang merasa bahwa pernikahan itu sesuatu yang fun, supaya sadar bahwa perkawinan itu butuh lebih dari sekedar cinta..
Pernikahan itu perlu tanggung jawab tingkat tinggi...
Posted at 03:21 pm by Hannyta
 |  |  |
Hanny August 7, 2008 03:20 PM PDT
To Ifa: Emang bener kan? Situ setuju juga kan? Siipp deh :P |
 |

 |  |  |
ifa August 5, 2008 05:57 PM PDT
Hanya ada tiga hal.. komitmen, kedewasaan, dan toleransi..
---> waw, kayaknya bener juga mbak hanny... :p |
 |

 |  |  |
Popi July 19, 2008 12:48 PM PDT
Totally agree. Menikah itu tanggung jawabnya berat, apalagi kalo punya anak. Saya bisa ngerti alesan seseorang yang gak mau punya anak karena dia merasa dunia ini bukan lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk seorang anak bertumbuh kembang. Tapi salut banget pada orang yang memutuskan punya anak dan bertanggungjawab dengan baik atas keputusannya |
 |

 |  |  |
Hanny July 16, 2008 12:53 PM PDT
Hoho.. si mas juga setuju toh..
Tapi rencana dengan mbak Eq nya jalan terus kan? :P |
 |

 |  |  |
blue July 15, 2008 02:30 AM PDT
saya juga sepakat honey.. eh hanny..
nggak semudah diucapkan kata-kata. |
 |

 |  |  |
Hanny July 10, 2008 04:37 PM PDT
To mbak Enno: hehehe, untung ada juga yang setuju.. Soalnya temen-temenku banyak yang protes sama tulisanku yang ini mbak, huehehe :) |
 |

 |  |  |
enno July 10, 2008 01:34 PM PDT
setuju banget hanny!!! |
 |

 |  |  |
Hanny July 2, 2008 04:44 PM PDT
To LKY: Thanks-thanks untuk infonya.. nanti saya cari deh buku2 itu.. |
 |

 |  |  |
LKY July 2, 2008 02:17 PM PDT
Ada beberapa buku ttg pernikahan yang saya recommend:
1. Bersamamu Selamanya, Adam Hamilton. http://www.visi-bookstore.com/product/1584/68/Bersamamu_Selamanya
2. The 10th Commandment of Marriage, Ed Young. http://www.amazon.com/Ten-Commandments-Marriage-Ed-Young/dp/0802431453/ref=si3_rdr_bb_product
3. http://www.lk3web.info/news.php
Ada tersedia buku2x yg bagus re: marriage.
Bagi yg sedang planning nikah/sudah terlanjur nikah, buku tsb. bagus untuk menjadi referensi.
|
 |