Ceklok.. merah lagi, 08.40..
Berangkat pukul 06.20
Kemarin.. merah juga, 08.45
Berangkat pukul 06.10 (hiks.. ternyata tidak beda jauh)
Dua hari yang lalu... lebih merah pula, 09.03
Wah, ini sih memang kesalahanku yang berangkat pukul 06.30
Sudah hampir sebulan ini kartu absenku tidak berubah menjadi hitam. Segala nya sudah kucoba, tapi ternyata memang nasib berkata lain. Kenapa tidak ada perubahan yang berarti dengan diriku yang sudah setangah mati membuka mata dengan lebih awal?? Salah siapa coba? >>kata orang pajak, hehe 
Nih ya, bukannya aku anak yang malas dan pekerja tidak taat aturan. Tapi, jarak bekasi-tugu tani yang kalau dengan hari biasa dan normal (misalnya Lebaran) cukup ditempuh dalam 1 jam (paling lama 1,5 jam), sekarang dan akhir-akhir ini jadi menggila. Jadi berlipat ganda bow waktu tempuhnya. 2 jam, lewattt... 2,5 jam? wah kadang2 jam segitu aku baru sampai di kantor. Masih mending jika sampai di kantor dengan wajah rapi dan wangi. Aku selalu sampai dengan rambut awut-awutan (seperti terkena topan badai) dan baju yang lecek karena harus berdesakan di Kopaja 502!! Grrrr... Rasanya mau marah, tapi dengan siapa? Memang jalanan sekarang betul-betul kacau. Kalimalang rasanya ingin ku bom saja!
Sebenarnya ada alternatif lain.. kereta api. Tapi dengan kisah kereta apiku yang pernah aku singgung di blog FS, makin membuat aku berpikir puluhan kali untuk menggunakan jasa transportasi yang satu ini. Ngaretnya itu loh, ampun-ampunan..
Oiya, ngomong-ngomong tentang kereta, aku punya cerita lucu..
Jadi begini.. memang semua orang sudah tau kalau Hannyta itu jalak dan gudes (ih, salah ketik).. Aku juga sadar kalau memang aku tukang ngomel, tapi tidak pernah terbersit dalam pikiranku untuk ngomel-ngomel dan marah-marah di tempat umum..
Hingga suatu hari...
Di pagi yang indah itu aku naik kereta.. Karena antrian pembelian tiketku masih pagi, jadilah aku menjadi salah satu penumpang kereta ekspress AC yang beruntung karena mendapat tempat duduk (kalau antrinya lebih siang, pasti kebagian berdiri). Semua berjalan seperti biasa (termasuk terlambat datangnya kereta yang masih bisa kumaklumi karena tidak lebih dari 10menit)...
Lalu kereta itupun datang.. Hm, sudah terbayang diriku duduk di kursi beludru nya yang empuk dan terkena semilir AC sehingga bisa tidur sampai Gondangdia (lumayan loh 30-45menit tidur pagi, hehe). Akupun masuk dengan mantap dan tidak berebut dengan yang lain karena kurasa aku punya hak untuk duduk..
Sampai di gerbong 5, kucari nomor B16 dan kususuri deretan kursi itu...
Hei, kenapa deretan kursi itu sudah ada orangnya? (umumnya banyak penumpang yang sembarang duduk walaupun mereka tidak punya jatah kursi). Rasanya sudah mau marah, apalagi yang duduk disana rata-rata bapak-bapak dan mas-mas yang kadang sering menzolimi perempuan lemah macam akyu 
Langsung Hannyta mengambil ancang-ancang dan mulai marah..
"Tolong ya, yang ga punya nomor, berdiri. Ini kan kursi saya", semprotku dengan wajah judes dan nada suara tinggi. Aku pun meminta mereka semua mengeluarkan karcis mereka dan menunjukkannya padaku. Well, semua melakukan hal itu, tapi tidak dengan seorang bapak-bapak berkumis yang malah pura-pura tidur. Kugoyang saja dia dan dengan galaknya berkata, "Pak, tolong dong, ini kursi saya, bapak jangan pura-pura tidur begitu. Bangun dong pak, saya mau liat karcisnya"
Seorang mbak-mbak berusaha menenangkan dan berkata, "Liat dulu nomornya mbak, bener ga duduk disini?".
Karena sudah kalap, kukatakan saja "Ya ampun, saya tau dong nomor saya berapa.. ini loh, nomor Be enam belaaaa", sekejap mulutku terkunci karena kusadari, kursi yang diduduki oleh orang-orang itu hanya sampai nomor B14!!
Alamak malunya awakkkk.. Kalau bisa terjun ke lubang bumi, rasanya ingin kukubur saja diriku dalam-dalam. Apalagi seketika itu juga, orang-orang di deretan kursi itu serempak menggumamkan kata "huuuuuuuuuuuuu"
Nasiiibb 
Posted at 03:10 pm by Hannyta