Percakapan di sore kemarin
"Katanya, mereka besok mau main kesana Ni.."
"Besok? Besok kapan?"
"Besok tanggal 30"
"Duh mati gue.."
"Kenapa 'mati gue'?"
"Kok mendadak sih? Kan gue bilang setelah seratus hari aja"
"Ya katanya sih cuma pengen main doang. Ngobrol aja.. ga disediain makanan juga ga apa-apa kok"
"Hehehe.. bukannya ga mau nyediain makanan, tapi coba kamu bayangin muka nyokap gue nanti.. Dia bisa grogi berat loh. Kamu mau tanggung jawab?"
"Ya maulah, kan buat dapetin kamu..."
Seketika pembicaraan itu terngiang lagi di kepalaku pagi ini. Lebih dari dua minggu yang lalu dia sempat pintakan hal ini kepadaku. Jujur waktu itu tidak sesungging senyum pun yang muncul. Bahkan raut tidak senang yang malah menghiasi wajahku.
Tapi kata-kata terakhir yang diucapkannya, membuatku hampir terbang ke langit. Seumur masa hubungan kami, tidak pernah sekalipun (mungkin pernah sekali-sekali, tapi tidak pernah kuingat karena menurutku terlalu jayus, hehe
) dia ucapkan kata-kata manis yang menyerempet ke arah kegombalan tingkat tinggi. Tidak pernah. Bisa mati bergidik aku kalau sampai hal itu pernah terjadi.
Ah.. women are so hard to be pleased..
Dipuja-puji, malah dikatakan gombal.
Dikatakan apa adanya, malah dibilang tidak punya perasaan.
Tidak pernah disanjung, malah dituduh tidak perhatian.
Untungnya dua hari yang lalu, ketika percakapan ini berlangsung, tidak langsung kusemprot dan kupatahkan kata-kata terakhirnya. Mungkin dia bisa sakit hati dan jadinya terpuruk. Yang ada malah aku -- seorang perempuan yang keras hati -- termesem-mesem tidak jelas di hadapannya sampai susah payah kusembunyikan muka merah ini. Bodoh memang, tapi itulah kejadiannya.
Jadi, kita lihat saja besok. Apa yang mereka mau katakan, ya katakanlah.
Wish me luck guys :)