Sudah semingguan ini Jakarta dan sekitarnya (termasuk daerah rumahku) diguyur air yang seperti tumpah ruah dari langit dengan derasnya. Tidak masalah sebenarnya, karena aku suka sekali dengan aroma bau hujan bercampur dengan tanah yang selalu muncul setelah hujan deras.
Yang menjadi masalah adalah dengan hujan lebat, muncul pula segala macam bentuk sampingannya. Contoh yang paling nyata adalah banjir. Tapi aku tidak akan membicarakan tentang itu disini. Aku akan membahas tentang binatang dan serangga berkeriapan yang sering timbul seiring dengan datangnya hujan besar.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan semua macam binatang yang dianggap menjijikan bagi sebagian orang. Tikus, kecoa, dan lipan bukanlah hal yang menakutkan bagiku. Jadi disaat sebagian besar perempuan di kantorku meloncat-loncat panik begitu melihat ekor tikus yang hitam panjang menjuntai lewat di kolong meja, yang kulakukan cuma melihat, memastikan tidak ada dokumenku yang digigit, dan kemudian cuek saja. Selalu begitu.
Tidak mempanlah bagiku semua mainan ular-ularan, kecoa-kecoaan, ataupun tikus-tikusan karet yang jika dilempar akan membuat sang korban menjerit-jerit.
Anyway, kantor sebesar Lippo ternyata punya tikus genus cecurut yang biasa memunculkan moncong lancip nya ketika sore menjelang. Juga sering merusak dokumen-dokumen yang difile di bawah meja. Malang juga rasanya, hehe.
Ok, back to main topic...
Belakangan kuketahui, ternyata ke 'kebalan' ku terhadap binatang-binatang itu memang tidak bisa dipertahankan jika jumlah binatangnya lebih dari satu atau dua.
Terbukti dengan kejadian dua hari yang lalu.
Di kamar mandi rumahku memang sering lewat satu dua ekor kecoa yang biasanya kubiarkan saja. Karena memang tidak takut, umumnya mereka akan kuizinkan hidup dan aku akan melanjutkan rutinitas mandiku seperti biasa.
Namun ternyata keputusanku yang umum kulakukan ini tidak boleh diterapkan lagi.
Karena dengan hujan besar yang sering terjadi akhir-akhir ini dan dengan sering meluapnya got sebelah rumah, menjadikan serangga coklat berkulit keras yang sering terbang itu melimpah dimana-mana.
Tepat ketika akan berkeramas, samar-samar kulihat ada tambahan beberapa ekor kecoa (dari yang hanya satu dua ekor) berseliweran di lantai. Karena sedang serius, kudiamkan saja mereka berkeliaran dan mendekat satu sama lain.
Mungkin karena cuaca dingin, dimana hal itu juga biasanya menimbulkan suasana romantis bagi manusia, kecoa-kecoa itu tiba-tiba membuat kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 2-3 ekor di pojokan kamar mandi.
Kuperhatikan dengan seksama apa yang mereka kerubungi, dan langsung kupahami bahwa mereka sedang melakukan aksi.....................KAWIN!!!

Sodara-sodara, mereka melampiaskan hasrat ke-'serangga'an dengan mengawinkan diri mereka sendiri dengan cara berterbangan rendah di pojok-pojok kamar mandi ketika diriku ini sedang mandi! Kurang sopan apa coba?
Duh... kalau satu atau dua sih masih berani, tapi kalau sampai 4-5 ekor lewat-lewat seliweran dan mayoritas mereka malah kawin satu sama lain, itu sudah beda persoalan. Merinding juga badan ini melihat mereka terbang saling mengejar (mungkin maksudnya percumbuan awal ala kecoa
) dan melewati diriku yang masih dalam misi 'sedang mandi' ini!!
Langsung dengan segenap upaya yang ada, kutuntaskan acara mandi dan dengan pakaian ala kadarnya, kusemprotkan Baygon ke arah kecoa-kecoa itu.
Maaf, bukannya kejam dan tidak suka melihat mahluk lain melangsungkan aksi reproduksinya, tapi please deh, kenapa harus dilakukan ketika diriku sedang mandi? Bukan salahku kan ya, kalau akhirnya mereka harus gepeng di bawah keplakan sendal dan teler karena racun serangga? 
Kesimpulannya teman-teman...
Kalau mau bercinta, harus lihat-lihat kondisi lingkungan sekitar dulu. Otherwise, siap-siaplah pesta anda dirusak oleh pihak lain... 