Kemarin sore aku mendapat sebuah berita yang cukup mengejutkan. Kak obed meninggal dunia. Dia adalah guru sekolah minggu yang dulu pernah jadi kakak sekolah minggu ku dan kini dia adalah rekan sepelayanan ku...
Dia sudah koma selama 2 minggu lebih (dirinya jatuh pingsan ketika melatih angklung ansambel untuk Natal di gereja.. bayangkan, kami semua melihat dia jatuh pingsan dan langsung sejak itu tak pernah sadarkan diri), dan sepanjang itu pula istrinya - Kak Yuli - dengan setia menemani di rumah sakit dan tak pernah pulang, mungkin itulah yang disebut cinta sejati.
Minggu lalu, kami sempat datang untuk mendoakan Kak Obed dan ia memberi respon dengan menggeliatkan tubuhnya. Tentu kami senang. We thought something good happened. Tapi kami sudah pasrah, tubuhnya hanya ditopang oleh mesin, bahkan bernafasnya pun sudah dibantu oleh respirator. Kami kira, kematian adalah hal yang paling baik yang Bapa berikan untuk nya. Namun tetap saja.. kematian adalah perpisahan menyedihkan bagi keluarganya.
Usianya masih sangat muda.. baru 45 tahun. Bagi kebanyakan orang, 45 tahun adalah titik balik untuk mereview kehidupan. Namun bagi kami semua yang ditinggalkan, 45 tahun hidupnya yang singkat telah menorehkan banyak makna. Dia adalah ayah yang baik, guru sekolah minggu yang taat pada pelayanannya, dan suami yang setia. Cukup.. hanya itu. Tiga komponen yang penting dalam sebuah kehidupan sudah digenapi olehnya.. Aku rasa, baik Kak Yuli, Moses, maupun Joshua pun cukup bangga akan jalan hidup papanya.
Betapa Kak Yuli dengan setia menunggui suaminya adalah hal yang patut dicontoh. Sampai maut memisahkan, begitu katanya. Kak Obed sudah bisa membuktikan pada semua orang bahwa pernikahan mereka bukan sebuah kesalahan. Mereka betul-betul berjuang (karena pernikahan mereka ditentang habis-habisan oleh kedua keluarga) dari nol untuk membina perkawinannya. Tidak ada yang berkomentar setelah itu. Semua diam. Semua tau, bahwa their marriage adalah sesuatu yang tepat. Bahwa tidak diperlukan 2 orang baik dan sempurna untuk menciptakan pernikahan yang kuat.. hanya dibutuhkan 2 orang yang mau saling mengisi.. hanya itu.
Hari ini 2,5tahun anniversary ku dengan dia.. Not a single call or even sms from him mentioning this thing, apakah rasa itu masih ada? Ataukah sudah hilang menjadi buih-buih asa? Mungkin baginya aku bukan yang utama. Aku merasa hilang. Kami terlalu jauh, bukan.. bukan jauh secara fisik, namun secara hati.. Sudahlah. Aku pun merasa, mungkin ini tidak bisa dilanjutkan. Terlalu banyak masalah dan kedua pihak pun tidak mau berusaha. Hanya sampai situ. Tidak seperti Obed-Yuli yang mau berjuang, kami tidak seperti itu. Dia tidak tau bagaimana lagi caranya untuk menghadapi masalah kami.
"Aku sudah menyerah"... setidaknya kalimat itu sudah sering dia katakan. Aku tau kamu sudah hampir putus asa, tapi tidakkah kau lihat perasaanku?
Jika hidup ini begitu singkat, kenapa tidak kita perjuangkan saja? Kenapa kita tidak mau sedikit lagi berusaha? Toh kita tidak tau kapan kita akan dipanggil oleh-Nya, why don't we try? We need each other, don't you think so?
Dua hari belakangan ini, lagu lama dari The Moffats terngiang dan berulang terus di kepalaku..
...If life is so short, i want to take a chance before we ran out of our time...
Ya.. before we ran out of our time