.... Kata orang-orang tua, dua piring yang terlalu dempet akan membuat somplak salah satunya ....
Untuk temanku, yang karena ketidak bisaanku ikut dengannya ke Dufan, menjadi sangat kesal dan tidak mau membalas semua sms ku.. ever since.
Tahukah kamu kawan, bahwa dana sebesar itu jauh lebih berarti untuk kuberikan kepada mamaku ketimbang bersenang-senang denganmu disana?
Bukan tak sayang dan tak peduli, tapi coba pahami posisiku.
Kamu tidak pernah ada di posisi yang sama, hidupmu terlalu mudah dijalani dan semua orang selalu menuruti permintaanmu.
Maaf kawan, tapi aku bukan orang macam itu.
Untuk temanku, yang tidak pernah bahagia melihat dunia. Selalu pesimis menghadapi hidup dan mengeluh tiap kali berganti pekerjaan.
Tahukah kamu kawan, bahwa ada lebih dari jutaan orang di bumi Indonesia ini yang berharap bisa punya pekerjaan seperti yang kamu punya?
Berhentilah merengek setiap kali menghadapi tantangan, karena ketahuilah, masih banyak orang lain yang memiliki masalah lebih berat dari yang kamu punya.
Untuk temanku, yang tidak datang ke rumah duka ketika papaku meninggal dunia. Bahkan ucapan 'turut berduka cita' pun tidak pernah mampir di hp ku. Pernah datang sekali ketika papaku baru meninggal di rumah sakit, tapi bukan untuk berbelasungkawa. Hanya karena dua sahabatku yang lain juga datang, maka kamu ikut.
Tahukah kamu kawan, bahwa kamu beruntung sekali punya orangtua lengkap dan masih menyuplai semua kebutuhanmu.... walaupun kamu sudah bekerja.
Jangan pernah menyumpahi papamu seperti yang dulu pernah kamu ceritakan padaku dan dua teman kita yang lain.
Kamu tidak akan tahu bagaimana berartinya orangtua mu, sampai kamu kehilangan mereka.
Untuk temanku, yang menganggap bahwa dirinya adalah yang tersial dari semua mahluk ciptaan Tuhan di dunia.
Tahukah kamu kawan, bahwa kami disini sangat lelah mendengar semua keluhanmu yang tidak berdasar.
Kamu sudah punya segalanya, syukurilah itu.
Satu-satunya hal yang kamu tidak punya, dan itu yang membuat hidupmu tidak pernah lengkap dan bahagia, adalah perasaan bersyukur.
Ingat, diatas langit masih ada langit. Selama kamu selalu melihat keatas, maka sepanjang itulah kamu akan selalu merasa malang.
Sekali-kali, lihatlah ke bawah.
Untuk temanku, yang bersahabat dekat denganku selama 4 tahun, dan malah bubar jalan karena hal sepele.
Ketahuilah kawan, bahwa aku tidak lagi merasa kesal denganmu.
Justru aku merasa kasihan padamu, bahwa ternyata diusia yang sudah lebih dari 25 tahun ini, masih hidup jiwa kanak-kanak yang tidak pernah dewasa.
Untuk temanku M... dimanapun kamu berada kini.
Tulisan ini kupersembahkan untukmu.