Scene 1
OB: "Mbak Hani kok kalau saya lihat akhir-akhir ini mukanya suka mesum ya?"
Aku: "Apa??" >> sambil tarik-tarik rokku yang memang rada pendek (dalam hati kupikir kurang ajar sekali OB ini bilang muka ku mesum?? Memangnya dia kira dirinya menggairahkan??)
OB: "Iya mbak, muka mbak Hani sekarang itu sering mesum deh"
Aku: "Apaan sih? Maksud kamu tuh apa?" (masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar, kupertegas saja pertanyaanku.. terserah dia mau bilang apa nantinya)
OB: "Itu loh mbak.. mesum.. Kalau orang lagi sedih itu kan mukanya suka mesum"
Aku: "Oooohh.. itu toh... ya emang ga ada apa-apa kok" (lega banget deh aku, pasti yang dia maksud adalah 'muram'. Mestinya aku tau kalau dia memang agak sedikit terbelakang, jadi seharusnya semua perkataannya tidak perlu aku ambil hati)
Scene 2 (suatu hari di tahun 2005, daerah Pasar Rebo, arah ke UI)
Adikku: "Bang, lewat gang Gober ga?"
Kenek: "Apaan? Gang apa? Kok kaya' nama orang?"
Adikku: "Gang Gober!!" >> budeg sekali sih abang ini, sepertinya dia terlalu banyak berkecimpung di mobil Tiger (tiga per-empat), jadi pendengarannya agak terganggu. Harus maklum..
Kenek: "Ohhh.. itu.. ayo naek buruan"
Sesampainya di tempat...Gang Kober...
Adikku: "Kenapa tulisannya jadi gang Kober? Pantesan kenek tadi bolak balik nanya, pasti dia pikir gue penggemar donal bebek...@!#$!!"
Betapa linguistik itu sangat diperlukan dalam sebuah komunikasi. Begitu juga dengan kecakapan pendengaran.. terbukti kan? 