Kemarin kuterima sebuah curhat colongan dari seseorang tentang 'perselingkuhan' yang dia perbuat.
Dia bahkan sadar sesadar-sadarnya, bahwa apa yang sekarang dilakukan adalah sesuatu yang salah. Tapi adrenalin yang memacu keras dalam aliran darahnya setiap kali dia bertemu dengan perempuan itu seakan sudah membutakan mata hati.
Padahal dia sudah tidak lajang lagi. Dia sudah beristri dengan dua orang anak.
Sebuah status yang sebetulnya tidak bisa dipungkiri... dia tidak boleh main api.
Diceritakan dengan lantang bahwa dia bahagia dengan hidupnya sekarang, bermain dengan dua wanita. Sebagai tambahan, perempuan itu berstatus janda-bukan-cerai-mati plus buntut 3 orang anak.
Lalu apa yang membuat dia mendua hati seperti itu? Pernikahannya sekarang tidak harmonis kah? Istrinya tidak bisa memuaskan dia lagi? Anak-anaknya yang tidak mau diatur? Atau apa?
"Tidak ada", katanya ringan.
"Tidak ada masalah apapun antara gue dengan istri gue, kita baik-baik aja", tambahnya.
Lalu kenapa dia harus memercikkan api asmara terlarang di sebuah hubungan pernikahan yang tentram?
"Istri loe kenal sama perempuan itu kan?", tanyaku.
"Iya, dia kenal. Anak-anak gue juga kenal sama dia. Pernah gue ajak mereka semua ketemuan kok", jawabnya.
"Gila ya loe, kenapa juga loe musti ketemuin mereka. Kalau nanti istri loe tau perselingkuhan loe, gimana coba?"
"Ya ga apa-apa kalau dia sampai tau", timpalnya enteng.
"Hah??! Emang loe mau kalau sampai dicerai sama istri loe?"
"Gue ga mau sampai dicerai sih, tapi gue emang mau nikah lagi sama perempuan ini. Kemarin malah gue udah foto pre-wedding sama dia. Loe mau liat?", dia berkata seraya mengeluarkan tumpukan foto-foto dari balik tas nya.
"Ih, mesra banget loe. Bahkan gue ga pernah ngeliat loe mesra gini sama istri loe", tandasku.
"Itu dia.. gue bener-bener cinta sama dia. CLBK nih kaya'nya"
"Ya ampun, sadar ga sih loe, dia itu bahkan punya 3 orang anak. Kalau loe bener-bener nikah sama dia, berarti loe punya 5 orang anak! Loe sanggup kaya' gitu? Belom lagi perasaan istri loe, gimana sih?", cecarku.
"Nah, berhubung loe bilang gitu sama gue, gue jadi keingetan untuk minta dibuatkan polis asuransi pendidikan untuk 3 anaknya. Loe bisa kan? Gue pengen supaya anak-anaknya bisa punya tabungan pendidikan. Tolong dibuatin ya", pintanya.
"Gila.. loe bener-bener gila ya.. ini serius?", tanyaku.
"Serius. Gue bener-bener serius", dia menjawab dengan sangat yakin.
Semua omonganku sudah seperti angin lalu. Dia betul-betul terbawa perasaan euphoria dengan dophamin yang sudah memenuhi otak dan pikirannya.
Katanya laki-laki adalah mahluk yang mengambil keputusan berdasarkan logika, tapi kenapa orang disebelahku ini menjadi sangat tidak rasional bila berhubungan dengan perempuan itu?
Dunia memang sudah terbalik.
Disaat banyak orang yang berusaha mempertahankan pernikahan monogami, satu untuk selamanya dengan pasangannya, pria ini malah ingin menambah satu "masalah" lagi dengan mencari celah untuk menikahi selingkuhannya. Padahal tidak ada masalah apapun dengan perkawinannya yang sekarang.
Sadar wahai teman, tindakanmu sekarang tidak bisa di-justified dengan alasan apapun juga.
Kobar api ini akan memakanmu pelan-pelan.
Perlahan tapi pasti, akan kamu temukan titik balik dari semua hubungan-indah-cinta-terlarang yang kamu lakukan sekarang.
Kenapa tidak kamu putuskan saja dari sekarang dan kembali ke istri dan anak-anakmu di rumah?
"Dia mah udah gila. Kerja aja ga konsen lagi. Gara-gara punya dua bini sih!", seloroh salah satu teman kerjaku menanggapi menurunnya performa kerja temanku ini.
Dan aku menimpali dengan senyum kecut.
Ah kawan, aku tau bagimu ini sulit, tapi kamu harus bisa melepaskan diri dari jerat cinta yang sangat memabukkan ini.
Aku paham bahwa kamu merasa telah berbuat salah ketika memutuskan cintanya secara sepihak diwaktu kalian masih SMA dulu, tapi itu masa lalu. Apa yang dia alami sekarang bukanlah salahmu. Bukan tanggung jawabmu jika sekarang pernikahannya kandas dan menyisakan tiga anak perempuan yang masih kecil-kecil.
Kamu juga toh masih punya dua mulut kecil yang harus diberi makan dan berhak atas kasih sayang yang utuh tak terbagi.
Jangan sampai tenggelam teman.
Aku tak sampai hati jika harus melihat banyak pihak yang harus terluka dalam permainanmu ini.
Cepatlah sadar..
Perselingkuhan, apapun bentuk dan alasannya, tak akan pernah kutolerir....
*as told second hand by him*